Monday, October 19, 2009

Golkar Pilih Koalisi Karena Ada Kesamaan Visi dan Misi

Senin, 19 Oktober 2009

BANDUNG - Partai Golongan Karya (PGK) memilih untuk berada di ranah koalisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono bukan karena mendapat jatah kursi di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, melainkan kesamaan visi dan misi belaka.

Berbicara pada Diskusi Publik "Penyusunan Kabinet SBY-Boediono Hak Prerogratif Presiden atau Politik Balas Jasa" yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Bandung (Unisba), Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PGK, Ricky Rachmadi, Senin, menyatakan setidaknya ada tiga dari sekian banyak kesamaan visi dan misi antara SBY-Boediono dengan visi misi PGK.

Menurut Ricky Rachmadi, hasil Musyawarah Nasional PGK belum lama ini, di antaranya tetap mengedepankan kekaryaan, dan tetap berada pada pemerintahan. Artinya PGK tetap mengedepankan pembangunan bangsa.

Paling tidak ada tiga hal yang mendasari PGK berada dekat dengan pemerintahan SBY-Boediono tersebut, pertama SBY-Boediono dan PGK membangun kesejahteraan masyarakat. Ini yang menjadi prioritas program PGK yang akan dilaksanakan secara konsisten sampai kapan pun.

Kedua, mengembangkan demokrasi, dan ketiga menegakan hukum. Yang terakhir disebut, menurut Ricky, PGK sangat mendorong terciptanya supremasi hukum dalam sistem demokrasi saat ini.

PGK, kata Ricky Rachmadi, mempersilakan kepada penegak hukum untuk mengusut tuntas jika ada kader PGK yang terlibat dalam kasus hukum apa pun, apalagi tindak pidana korupsi.

Menurut Ricky, pada fenomena rekrutmen calon menteri dan menteri negara serta pemimpin lembaga negara setingkat menteri lainnya memunculkan syakwasangka pihak-pihak tertentu.

Ricky Rachmadi menyebutkan pemosisian kader partai yang berkoalisi dengan SBY-Boediono, saat Pemilu Presiden lalu, disebut-sebut sebagai balas jasa. Untuk partai lain yang berkoalisi boleh saja istilah itu diberlakukan, tetapi tidak bagi PGK.

Sebab, lanjut Ricky, PGK saat Pilpres lalu bukan sebagai partai yang berkoalisi dengan SBY-Boediono. "Kalaulah ada kader PGK yang mendapat kepercayaan menduduki menteri, itu semata karena kompetensi. Kader PGK banyak yang memiliki kompetensi," katanya. Karena itu persoalan rekrutmen untuk Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini harus disemangati oleh UU 39/2008, tentang kementerian dan menteri negara.

Wasekjen PGK Ricky menandaskan kalau PGK berada pada kabinet tidak akan lantas melemah dan menjadi serta-merta "membebek". PGK akan menjadi mitra pemerintah yang kristis, objektif, dan proporsional. Selain sudah menjadi arah PGK, ketiga hal tersebut, sangat mungkin untuk dilakukan.

"Sebab raihan kursi di parlemen sebanyak 107 kursi, selain menjadi pertimbangan bagi SBY untuk memberikan posisi di kabinet, juga PGK akan memiliki warna tersendiri untuk mendukung atau mengkritisi guna terbangunnya pemerintahan yang kuat, dengan kesejahteraan rakyat yang baik, serta tegaknya hukum," katanya.

Sumber: Kompas.com

Comments :

2 komentar to “Golkar Pilih Koalisi Karena Ada Kesamaan Visi dan Misi”

BANDIT BATAK said...
on 

Golkar gak terbiasa jadi koalisi. koalisi di mata masyarakat Indonesia masih negatif, masyarakat Indonesia masih cenderung menganggap koalisi itu suka mengkritik aj tanpa mau berbuat (meskipun sebenarnya bukan seperti itu). sedangkan kondisi Golkar saat ini semakin tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat. Artinya, klw jadi koalisi, justru memperburuk citra Golkar di mata masyarakat, sebaliknya politik pencitraan dari demokrat khususnya SBY sangat berjalan bagus. Golkar tentu fak mau bernasib sama dengan PDIP yang semakin di anggap org cuma tau mengkritik aj...

satya said...
on 

Glad I found your blog. I will be a regular reader!Level indicator

Post a Comment

Site INFO

News & Media Blogs - BlogCatalog Blog DirectoryGoogle PageRank Checking tool
Blog Directory

LINK EXCHANGE

banner

BLOGROLL

 

Copyright © 2009 by SAMBAS POST